www.seputarasuransi.com - semuanya ada disini - saatnya berasuransi syariah - saatnya menuju kebaikan

Menjadi Pemimpin Dalam Segala Aspek Kehidupan

Dari Abdullah bin Umar ra, Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya.Seorang Imam (pimpinan) adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggung jawaban dari apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang khadim (pembantu) adalah pemimpin pada harta tuannya (majikannya), dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” 
(HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Daud & Ahmad bin Hambal)

Terdapat  beberapa   hikmah   yang   dapat  kita   petik  dari  hadits  ini.  Diantara   hikmah-hikmah  tersebut adalah sebagai berikut:
1. Hakekat   kepemimpinan   dalam   Islam.   Seorang   pemimpin   dalam   Islam,   bukanlah   sekedar seseorang   yang   diangkat   untuk   menempati   jabatan   kepemimpinan   tertentu,   seperti   jabatan presiden   misalnya.  Namun  pemimpin   adalah  seseorang  yang  mendapatkan   suatu  amamat  yang harus   dikerjakan   dan  dilaksanakannya,  kendatipun  kecilnya   amanat   tersebut.  Karena  apa  yang  diamanatkan kepada dirinya, kelak semuanya akan dimintai pertanggun jawabannya oleh Allah SWT tanpa terkecuali.

2. Manhaj   (metode)  Rasulullah   SAW   dalam  membina   para  sahabatnya.   Beliau   senantiasa menanamkan  rasa “kepemimpinan”, pada hati setiap  sahabatnya. kendatipun sahabat tersebut hanya sebagai  seorang  khadim  (pelayan), atau  hanya  sebagai seorang  suami  dan  juga  bahkan  jika  ia hanya sebagai seorang istri di rumah suaminya. Pada hakekatnya, semua orang adalah pemimpin.

3. Persamaan   tanggung   jawab   insan  di  hadapan   Allah   SWT.  Karena   semua   manusia  akan kembali kepada Allah SWT, kendatipun tingginya kedudukan yang dimilikinya di dunia ini. Seorang khadim, belum  tentu  ia lebih  hina di akhirat  dibandingkan dengan majikannya. Seorang istri yang hanya  sebagai ibu rumah  tangga, bisa  jadi ia  lebih  mulia dibandingkan  dengan  seorang  presiden yang memimpin sebuah negara. Namun mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu pertanggung  jawaban yang sama atas amanat yang Allah berikannya pada mereka. Inilah bukti keadilan Islam.

4. Dalam   hadits   ini,   Rasulullah   SAW   mendahulukan   menyebut   “Imam”,   kemudian mengakhirkan menyebut “Khadim”. Hikmah dari mengawalkan imam dan mengakhirkan khadim adalah karena kecendrungan  manusia yang sering silau dengan jabatan. Manusia berlomba-lomba mencari   jabatan   yang   paling   tinggi   di   kehidupan   dunia   ini,   karena   dipandang   sebagai   satu  kemuliaan. Padahal  semakin  tinggi jabatan  seseorang, maka semakin  besar  tanggung jawab yang  akan dipikulnya di akhirat kelak. 

Dalam sebuah hadits umpamanya, Rasulullah SAW mengatakan :
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan amanat kepadanya berupa rakyat yang dipimpinnya kemudian ia meninggal dunai dan pada saat ia meninggal ia berbuat kecurangan terhadap rakyatnya, maka Allah akan haramkan baginya surga 
(HR. Muslim)

5. Setiap   muslim   harus   berhati   hati   terhadap   profesi   apapun  yang   diembannya;  apakah  sebagai karyawan,  pedagang,  buruh   pabrik,   ibu   rumah   tangga,   pembantu,   tukang  kebun,   supir   taksi, pengurus masjid, marbot masjid, bendahara yayasan, anggota dewan, pejabat, kepala sekolah dan lain  sebagainya. Karena pada hakekatnya ia sedang memimpin  pada “amanahnya” tersebut. Jika tidak berhati-hati, maka ia akan mendapatkan azab, karena lalai dalam menjalankan amanahnya. 

Wallahu A’lam
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag.
seri 001

Note :
Ulasan ini dapat  juga dibaca dalam format PDF, silahkan download


Related Article:

 
Copyright 2010 Blog TAKAFUL. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog